Bertukar Jiwa
Hai Rindu, pagi ini ku memulai hari dalam sendu. Langit memang tak sedang kelabu, namun hatiku yang terasa abu-abu. Andai kau menjadi diriku, lirik apa yang akan melagu di pikiranmu? Andai kau dan aku bisa bertukar jiwa, apakah kau mau? Stasiun kereta pada pagi hari memang selalu tampak ramai. Orang-orang berlalu-lalang demi menumpangi transportasi darat paling efektif untuk sebuah pusat kota. Entah apa yang akan terjadi apabila kami, kaum milenial, memaksakan diri mengendarai mobil pribadi. Jakarta selalu saja familiar dengan kemacetannya. Manusia dipaksa berdosa akibat selalu memaki karena merugi. Belum lagi energi yang terkuras habis padahal baru saja memulai hari. Bayangkan berapa banyak minuman isotonic yang harus kami minum demi terjaganya sebuah ambisi? Aku berdiri tepat di depan pintu gerbang wanita sebuah kereta yang akan behenti. Di peron dua, aku menunggu kereta dengan tujuan akhir jakarta kota. Tidak. Aku tidak akan sampai ke sana, pemberhentianku hanya sampai...