Satu Hari Sebelum Mengucap Akhir
Reka yang belum merekah, tetapi juga tak menerka. Tuhan tahu, siapapun percaya, imaji tak bisa dibohongi. Apalagi rasa yang terkadang dirasa lebih peka. Ujungnya asumsi yang mengambil alih kendali. Di penghujung akhir tahun ini, saya ingin mengucap akhir. Namun, sebelumnya saya ingin menuturkan kata yang sering manusia lupa. Maaf dan terimakasih. Maaf untuk ketidaksempurnaan, terimakasih untuk siapa saja yang berusaha menyempurnakan. Meski sesungguhnya tidak pernah ada yang tepat dalam memaknai kata sempurna. Saya tak pernah lupa, apa-apa saja yang saya lalui setahun silam. Baik dan buruk, saya yakin mereka tak pernah luput di setiap langkah saya. Hasilnya baik atau buruk, saya yakin itu yang terbaik. Senang, sulit, tawa, air mata, datang, pergi, menghilang, kembali. Semuanya seolah terbiasa, hati saya kebas, pikiran saya tak ingin mempermasalahkan. Saya belajar dari banyak kisah. Saya terbiasa memperhatikan terperinci, setiap manusia, setiap hubungannya dengan saya...