Bertukar Jiwa

Hai Rindu, pagi ini ku memulai hari dalam sendu.
Langit memang tak sedang kelabu, namun hatiku yang terasa abu-abu.
Andai kau menjadi diriku, lirik apa yang akan melagu di pikiranmu?
Andai kau dan aku bisa bertukar jiwa, apakah kau mau?

Stasiun kereta pada pagi hari memang selalu tampak ramai. Orang-orang berlalu-lalang demi menumpangi transportasi darat paling efektif untuk sebuah pusat kota. Entah apa yang akan terjadi apabila kami, kaum milenial, memaksakan diri mengendarai mobil pribadi. Jakarta selalu saja familiar dengan kemacetannya. Manusia dipaksa berdosa akibat selalu memaki karena merugi. Belum lagi energi yang terkuras habis padahal baru saja memulai hari. Bayangkan berapa banyak minuman isotonic yang harus kami minum demi terjaganya sebuah ambisi?

Aku berdiri tepat di depan pintu gerbang wanita sebuah kereta yang akan behenti. Di peron dua, aku menunggu kereta dengan tujuan akhir jakarta kota. Tidak. Aku tidak akan sampai ke sana, pemberhentianku hanya sampai stasiun ke lima. Biasanya menunggu sambil mendengarkan lagu menjadi pilihanku. Abaikan alasannya, aku hanya tidak ingin melakukannya hari ini.  

Lima menit kemudian kereta yang kutunggu tiba, namun aku urung memasukinya. Bisa-bisa asma-ku kambuh karena terlalu sesak. Aku tunggu kereta berikutnya, berharap akan ada ruang untukku yang tesisa. Setidaknya, aku tak harus lelah berusaha mencari udara di sana. Ketika kereta dihadapanku berlalu, kulihat sebuah kereta berhenti di peron yang berbeda. Aku iri pada penumpang kereta itu, mereka begitu leluasa untuk bernapas lega. Hai teman, memang tak mudah menjadi diriku, namun jika kita bisa bertukar jiwa, apakah kau mau?

Aku tiba di stasiun pemberhentian tepat pukul 8.45, setelah menunggu kereta salama 10 menit dan menempuh perjalanan 30 menit lamanya. Sama seperti stasiun pemberangkatanku, stasiun ini juga sangat ramai. Mungkin karena area stasiun yang dikelilingi banyak gedung perkantoran di mana pekerjanya juga menumpangi transportasi umum ini.

Sebelum keluar dari area stasiun, aku sempat melihat para petugas berdiri dengan konsistensinya menjaga keamanan. Setiap hari hanya begitu, mengawasi orang-orang dari datang atau perginya kereta. Hai Bapak Petugas, bukankah itu terlalu membosankan jika dijadikan sebuah pekerjaan? Jika kita bisa bertukar jiwa, mungkin ratusan kali akan aku pikirkan.

Lima belas menit berikutnya aku tiba di sebuah coffee shop, yang katanya, sangat digemari masyarakat global. Berlogo sesosok berambut panjang, entah pria atau wanita, aku masih mengira-ngira. Letaknya berada di dalam sebuah mall di bilangan jakarta selatan.  Sesungguhnya di mall daerah rumahku juga ada, tapi ini permintaan editor yang tak bisa aku tolak. Aku menempati sofa dekat jendela yang berhadapan langsung dengan jalan raya setelah memesan medium cup hot chocolate. Berhubung belum sarapan, mungkin kopi akan menjadi pesananku selanjutnya.

Beginilah nasib seorang penulis menunggu sang editor yang seringkali datang terlambat. Harusnya aku juga bisa sengaja mengulur waktu agar tak lama menunggu, namun sayang aku tak mampu. Aku selalu enggan mengabaikan waktu yang begitu cepat berlalu. Biar saja harus menunggu, toh aku jadi tak harus terburu-buru.

Kata orang, kita bisa melihat megahnya dunia di balik sebuah jendela. Kutatap baik-baik pemandangan di hadapanku, tak kulihat dunia di sana. Mataku hanya menangkap banyak manusia dengan segala aktivitasnya, dan kendaraan bermotor yang berbaris rapi menunggu keajaiban agar bisa cepat melaju. Jika aku bertukar jiwa dengan mereka, aku lebih bersyukur duduk di sini walau hanya termangu.

Tak lama editorku tiba membuyarkan lamunan, selalu saja merayu dengan senyuman khas pembual. Sering kali aku memakinya dengan perkataan, “Permintaan maafmu terlalu murahan jika hanya dengan senyuman”. Setelahnya ia hanya akan membalas dengan tertawa yang selalu tak kusuka. Hai editor kesayanganku, jika kita bisa bertukar jiwa, kekesalan seperti apa yang akan kau lakukan padaku?

Seusai mengahabiskan tiga jam untuk berdiskusi, editorku pamit untuk menghadiri pertemuan dengan beberapa penerbit. Tentu saja aku membiarkannya karena ini tentang nasib tulisanku. Setelah ia berlalu, pikiranku melayang ke masa lalu. Bayang-banyangnya kembali terkuak dalam imajiku. Masih teringat jelas betapa bahagiaku dicintai olehmu. Apa kabar kamu? Aku rindu.


^to be continue^

Comments

Popular posts from this blog

Bertemu Si Rindu, 21p.m

Harapan di Hari Ulang Tahunmu

Sang Memoar