Posts

Renew-me

Teruntuk Kamu yang dulu, selamat kini Kamu telah berubah menjadi baharu. Kamu bukan lagi Kamu yang dapat dipatahkan kakinya, dilumpuhkan tangannya. Kamu bukan lagi Kamu yang dapat dihalang-halingi kemampuannya, diabaikan keahliannya. Maafkan mereka yang telah sengaja menjatuhkanmu. Maafkan mereka yang telah mengabaikan perasaanmu. Maafkan. Mungkin peran yang dulu menjadi fokusmu telah sirna. Biarkan, relakan. Berdoalah kepada Tuhan. Pinta kepada-Nya peran yang baru. Peran yang mungkin akan membawamu lebih dekat kepada-Nya. Lebih nyaman karena keberkahan-Nya. Selamat datang di kehidupan yang baru, bersama orang-orang baru yang sejatinya lebih bermakna bagi kehidupanmu.

Anganku: Dinginnya Sheffield Membekukan Hati

Oh Tuhan, kenapa Sheffield bisa sedingin ini? Apa kabar Bandung?­ Aku rindu kota itu. Rindu orang tuaku. Ayah, Ibu sehat? Abang tak membuat kalian repot kan? Aku rindu kehangatan kalian walau di musim hujan sekali pun. Tunggu aku pulang ya, tunggu sebentar saja. Bus itu berhenti. Sudah sekitar setengah jam hingga Ana sadar bahwa ia telah sampai di tujuannya. Universitas di Sheffield, Inggris, sudah sekitar satu tahun Ana menjadi mahasisiwi jurusan komunikasi di sana. Tak ada mimpi yang tidak bisa kuraih, tugasku hanya mencari peluang dan memanfaatkannya. Kalau ingin tahu bagaimana sosok perempuan bertekad besar, kalian harus bertemu dengannya, Anagatha Janmawira. Perempuan, 18 tahun, kelahiran kota Kembang Bandung, Indonesia. Anak dari pelatih sepak bola lokal, Dharma Adhiwira, dan pemilik usaha kue terkenal di Bandung, Laili Nathania. Ana mempunyai satu kakak laki-laki bernama Ananta Janmawira, mahasiswa aristetkur ITB. Tidak seperti biasanya halte bus universitas ...

Satu Hari Sebelum Mengucap Akhir

Reka yang belum merekah, tetapi juga tak menerka. Tuhan tahu, siapapun percaya, imaji tak bisa dibohongi. Apalagi rasa yang terkadang dirasa lebih peka. Ujungnya asumsi yang mengambil alih kendali. Di penghujung akhir tahun ini, saya ingin mengucap akhir. Namun, sebelumnya saya ingin menuturkan kata yang sering manusia lupa. Maaf dan terimakasih. Maaf untuk ketidaksempurnaan, terimakasih untuk siapa saja yang berusaha menyempurnakan. Meski sesungguhnya tidak pernah ada yang tepat dalam memaknai kata sempurna. Saya tak pernah lupa, apa-apa saja yang saya lalui setahun silam. Baik dan buruk, saya yakin mereka tak pernah luput di setiap langkah saya. Hasilnya baik atau buruk, saya yakin itu yang terbaik. Senang, sulit, tawa, air mata, datang, pergi, menghilang, kembali. Semuanya seolah terbiasa, hati saya kebas, pikiran saya tak ingin mempermasalahkan. Saya belajar dari banyak kisah. Saya terbiasa memperhatikan terperinci, setiap manusia, setiap hubungannya dengan saya...

Secepat Kilat

Tentang sebuah perjalanan singkat menuju tempat yang sudah saya rindu dengan amat sangat. Bersama kesibukan. Padat, tetapi tidak lamban. Semua justru berjalan sangat cepat, tanpa kesan. Hanya saja, saya punya satu yang memikat, hanya saja ingin sekali saya bagi ke kalian. Mari, coba dengarkan.                 Lepas landas bersama hujan, pengalaman pertama yang takkan terlupakan. Masih teringat betul betapa banyak bulir air yang datang terseret angin dan mampir di jendela pesawat saya. Saya menikmati, tetapi juga khawatir. Mampukah pesawat saya menembusnya? Tidak hanya angin, tetapi juga air.   Dapatkah ia terbang? Ternyata berhasil! Hebat! Namun sayangnya semakin tinggi, saya semakin tidak menemukan air yang jatuh tadi. Tak sama dengan hujan, rintik kali ini malah seperti kilat yang merambat cepat. Secepat kilat. Semakin tinggi, justru matahari yang kian menerobos. Menusuk, memb...

Sang Memoar

Saya pernah punya kenangan indah dari kumpulan gambar bercerita tentang sebuah perjalanan panjangmu. Saya namai kamu, Sang Memoar. Pada suatu malam, beberapa hari setelah kita berkenalan, kamu merunut cerita betapa hidup di negeri orang begitu mengesankan. Lalu saya katakan, “Itu mimpi saya sejak dulu. Berada di antara miliaran manusia bukan di negeri sendiri pasti jadi perjalanan yang menyenangkan, juga menantang. Mengenali kultur mereka, sekaligus menikmati keindahan alam milik-Nya.” Satu mimpi saya sudah dimiliki olehmu rupanya. Saya pun semakin tidak sabar mendengar lebih banyak lagi kisah darimu. “Nanti saya kirim foto dengan spot-spot bagus ya,” sebuah pilihan bijak bagi saya yang sedang mengeluh iri padamu. Sejak awal kamu sudah membuat saya takjub. Saya pikir kamu akan ingkar, namun ternyata saya salah. Selang sehari setelah kamu berkata dan perjalananmu dimulai, kamu pun mengirim gambar-gambar bercerita itu. Mulai dari pemandangan Black Sea yang kamu...

Bertukar Jiwa

Hai Rindu, pagi ini ku memulai hari dalam sendu. Langit memang tak sedang kelabu, namun hatiku yang terasa abu-abu. Andai kau menjadi diriku, lirik apa yang akan melagu di pikiranmu? Andai kau dan aku bisa bertukar jiwa, apakah kau mau? Stasiun kereta pada pagi hari memang selalu tampak ramai. Orang-orang berlalu-lalang demi menumpangi transportasi darat paling efektif untuk sebuah pusat kota. Entah apa yang akan terjadi apabila kami, kaum milenial, memaksakan diri mengendarai mobil pribadi. Jakarta selalu saja familiar dengan kemacetannya. Manusia dipaksa berdosa akibat selalu memaki karena merugi. Belum lagi energi yang terkuras habis padahal baru saja memulai hari. Bayangkan berapa banyak minuman isotonic yang harus kami minum demi terjaganya sebuah ambisi? Aku berdiri tepat di depan pintu gerbang wanita sebuah kereta yang akan behenti. Di peron dua, aku menunggu kereta dengan tujuan akhir jakarta kota. Tidak. Aku tidak akan sampai ke sana, pemberhentianku hanya sampai...

Anganku: Kamu di Mataku

Ana di mata Bhanu, Ana itu punya gue. Kalau ada yang berusaha merebut, gue kasih, tp setelah gue ga ada di bumi. Kita tuh ditakdirkan memang berdua. Bersyukur banget deh punya seorang Ana, temen sejak kecil. Dulu, ketika Bandung belum seramai ini kita sering main sepeda dari rumah sampai ke Taman Tegalega. Jaraknya lumayan bagi kami yang masih usia 10 tahun. Ana beda dari perempuan kebanyakan. Ia punya seribu impian dalam hidupnya, satu per satu sedang ia gapai sekarang. Gue sempat berpikir untuk menaruh hati ke dia, tapi tidak jadi. Ana pasti akan tertawa sampai tersendak kalau dengar ini. Katanya, gue itu teman hidup tapi bukan bakal akad dia nanti. Gak apa deh, yang penting gue punya teman spesial seperti Ana. Bhanu di mata Ana, Cowok brengsek yang sialnya jadi temen gue sejak kecil. Meskipun begitu, dia banyak makna sih di hidup gue. Pokoknya, i love you in anyways, Bhanu. *prolog from Anganku's short story