Sang Memoar


Saya pernah punya kenangan indah dari kumpulan gambar bercerita tentang sebuah perjalanan panjangmu.

Saya namai kamu, Sang Memoar.

Pada suatu malam, beberapa hari setelah kita berkenalan, kamu merunut cerita betapa hidup di negeri orang begitu mengesankan. Lalu saya katakan,

“Itu mimpi saya sejak dulu. Berada di antara miliaran manusia bukan di negeri sendiri pasti jadi perjalanan yang menyenangkan, juga menantang. Mengenali kultur mereka, sekaligus menikmati keindahan alam milik-Nya.”

Satu mimpi saya sudah dimiliki olehmu rupanya. Saya pun semakin tidak sabar mendengar lebih banyak lagi kisah darimu.

“Nanti saya kirim foto dengan spot-spot bagus ya,” sebuah pilihan bijak bagi saya yang sedang mengeluh iri padamu. Sejak awal kamu sudah membuat saya takjub.

Saya pikir kamu akan ingkar, namun ternyata saya salah. Selang sehari setelah kamu berkata dan perjalananmu dimulai, kamu pun mengirim gambar-gambar bercerita itu. Mulai dari pemandangan Black Sea yang kamu lewati, langit yang tiba-tiba hujan padahal sebelumnya matahari sangat terik, hingga kedai tempatmu singgah untuk sekadar minum teh. Katamu, kamu butuh menghangatkan badan selepas hujan.

Perjalananmu semakin jauh, dan saya semakin tidak sabar menunggu.

Satu yang melekat, ketika kamu sedang berada di sebuah kota yang sesungguhnya bukan tujuan akhirmu. Sebab permintaan seorang teman untuk singgah semalam, kamu pun mengiyakan. Lagi pula di sana kamu bisa memakan buah-buahan dengan berbagai macam rasa kesukaanmu. Kamu bisa memandangi bunga bermekaran di taman sepuasmu. Juga menikmati nyamannya sebuah bukit dengan pemandangan hijau yang diiringi suara merdu burung berkicau.

Di sini kami bebas berdendang, kicau mereka lantang.

Begitu kalimat yang saya tuliskan untuk memaknai gambarmu. Sesuai pintamu, kamu merunut kisah dari hasil bidik lensa, lalu saya yang menuai kata dalam setiap kalimatnya. Kamu selalu mengaku tak pandai bertutur, sedang saya justru seperti burung-burung yang kau dengar kicauannya.

Namun, sayangnya seringkali saya merasa bosan. Sesakali saya juga ingin menjadi pendengar. Darimu, yang bersaksi atas perjalananmu sendiri. Jangan salah sangka, bukan maksud menolak. Kamu perlu mengerti, hanya saja saya ingin satu lagi mimpi saya dimiliki olehmu.

Ya, bermimpi menapakkan kaki di banyak belahan dunia, bukan hanya kepuasan yang saya kejar. Saya ingin sekali memiliki perjalanan nyata yang bisa saya jadikan sebuah memorial. Memorial berupa tulisan agar kelak bisa saya bagikan kepada banyak orang. 

Harapannya menjadi satu-kesatuan, saya bisa meyakinkan mereka betapa banyak pelajaran yang bisa dipetik dari setiap pertemuan. Juga betapa banyak makna yang bisa di-amin-i dari setiap perpisahan.

Saya mendamba itu, dan saya belajar dari kisah kamu.

Kamu pun terus merunut cerita. Tiada hari tanpa kisah yang berhias indah dalam imaji saya. Kisah yang membuat saya merangkai 'jika-jika': andai hari ini atau nanti, ada terselip susunan kata dalam kalimat yang saya buat untukmu, saya pastikan itu tentang perjalanan istimewa yang kamu bagikan kepada saya. Hingga perjalananmu menjadi kenangan yang tak terlupakan, bukan hanya olehmu, tetapi juga oleh saya.

Terima kasih, Memoar. Kamu secara tidak sengaja memberi tahu saya betapa mudah memaknai sebuah perjalanan. Setidaknya kamu dan saya hanya perlu berjibaku dengan ilmu, menjahitnya jadi sebuah rantai kisah, lalu sampailah kita di penghujung jalan yang menjadi tujuan. Tak sendiri, tak berdua, tetapi bersama kebanggaan atas dirimu yang bisa dibagikan ke kehidupan orang lain.


Terima kasih, Memoar. Kamu akan saya kenang.



Ps. Memoar; si pengelana ilmu, si penjelanjah waktu. 

Comments

Popular posts from this blog

Bertemu Si Rindu, 21p.m

Harapan di Hari Ulang Tahunmu