Secepat Kilat
Tentang sebuah perjalanan singkat menuju tempat
yang sudah saya rindu dengan amat sangat.
Bersama kesibukan. Padat, tetapi tidak lamban.
Semua justru berjalan sangat cepat, tanpa kesan.
Hanya saja, saya punya satu yang memikat, hanya
saja ingin sekali saya bagi ke kalian.
Mari, coba dengarkan.
Lepas
landas bersama hujan, pengalaman pertama yang takkan terlupakan. Masih teringat
betul betapa banyak bulir air yang datang terseret angin dan mampir di jendela
pesawat saya. Saya menikmati, tetapi juga khawatir.
Mampukah
pesawat saya menembusnya? Tidak hanya angin, tetapi juga air. Dapatkah ia terbang?
Ternyata berhasil! Hebat! Namun sayangnya semakin tinggi, saya semakin tidak menemukan air yang jatuh tadi.
Tak sama dengan hujan, rintik kali ini malah seperti kilat yang merambat cepat.
Secepat kilat.
Semakin
tinggi, justru matahari yang kian menerobos. Menusuk, membuat mata seperti
dibangunkan sinar persis saat jendela kamar saya dibuka pagi-pagi.
Saya tetap
menikmati, meski mau tidak mau saya harus hadapi bosan. Sebab, buku yang ingin
saya baca, baru saya sadar, telah lenyap. Entahlah, sepertinya tertinggal di
taksi.
Menempuh
perjalanan dua setengah jam, artinya saya baru akan sampai pukul 5 sore,
setelah harus mengalami delay selama tiga puluh menit. Tidur tidak bisa,
membaca buku pun tidak bisa. Saya hanya bisa memandangi kumpulan awan yang
lambat laun saya tinggalkan. Siering laju pesawat, seiring angin membawanya
pergi.
Rupa-rupanya
saya jadi terkenang dirimu.
Kedatangan
yang tak pernah saya duga, kamu bawa harapan dan juga kekhawatiran. Serupa yang
dilakukan rintik hujan padaku. Kamu mengawali perjalanan dengan sangat epik.
Sampai akhirnya saya yakin, bersamamu saya akan baik-baik saja. Hanya bersamamu
saya pasti baik-baik saja.
Khayalan bodoh.
Tentu saja
perihal kehidupan tak semudah itu. Memang hanya saya dan kamu yang memiliki
nyawa? Memang tak cukup sadar bahwa kita hidup di antara miliaran makhluk
berperasaan? Tuhan suka membolak-balikan hati pada siapa saja yang kurang tegas.
Mungkin
saya sudah seyakin itu, tetapi kamu tidak.
Usai
membasahi setiap sisi yang telah lama kering kerontang dengan rintik-mu, kamu
pergi tanpa meminta imbalan. Sayangnya justru saya yang tak tahu diri. Saya
ingin kamu terus hadir, tidak hanya singgah, tetapi selamanya.
Sayangnya
semakin saya yakin, kamu semakin jauh.
Entah
mengapa.
Kamu pun
benar-benar hilang.
Entah ke
mana.
Comments
Post a Comment