Satu Hari Sebelum Mengucap Akhir


Reka yang belum merekah, tetapi juga tak menerka.
Tuhan tahu, siapapun percaya, imaji tak bisa dibohongi.
Apalagi rasa yang terkadang dirasa lebih peka.
Ujungnya asumsi yang mengambil alih kendali.

Di penghujung akhir tahun ini, saya ingin mengucap akhir. Namun, sebelumnya saya ingin menuturkan kata yang sering manusia lupa. Maaf dan terimakasih. Maaf untuk ketidaksempurnaan, terimakasih untuk siapa saja yang berusaha menyempurnakan. Meski sesungguhnya tidak pernah ada yang tepat dalam memaknai kata sempurna.

Saya tak pernah lupa, apa-apa saja yang saya lalui setahun silam. Baik dan buruk, saya yakin mereka tak pernah luput di setiap langkah saya. Hasilnya baik atau buruk, saya yakin itu yang terbaik. Senang, sulit, tawa, air mata, datang, pergi, menghilang, kembali. Semuanya seolah terbiasa, hati saya kebas, pikiran saya tak ingin mempermasalahkan.

Saya belajar dari banyak kisah. Saya terbiasa memperhatikan terperinci, setiap manusia, setiap hubungannya dengan saya. Saya pernah mencintai seseorang karena segala yang dicintainya serupa dengan saya. Saya pernah membenci seseorang karena segala yang ada pada dirinya terlalu dicintai olehnya. Hingga saya berani menerima bahwa cinta tak melulu tentang kecintaan saya atau dirinya.

Satu atau dua, saya punya alasan untuk mencintai atau tidak mencintai. Tak ada pilihan, sebab saya memilih keduanya dengan cara saya. Tidak memilih salah satunya juga cara saya.

Sekali lagi, terima kasih manusia. Saya yang hanya ada satu ini sangat beruntung mengenal kalian, menikmati prosesnya. Lalu, menjadi sebuah hubungan tanpa batas, seperti seorang dengan pantulan dirinya sendiri saat matahari berada tepat di atas jengkal ubun-ubunnya. Saya mendamba perubahan, namun bercermin pada bayangan itu semakin membuat saya yakin: betapa mudah mempelajari suatu hal jikalau kita ingin sabar dan lebih tangguh.

Biar semua merasakan, setiap rasa sakit ketika impian tidak datang di tahun yang baru. Apalagi kalau keberuntungan juga tidak mendukung. Akan menjadi seperti apa aku? Kamu? Kita?

Selamat awal tahun, teman-teman manusia!

Comments

Popular posts from this blog

Bertemu Si Rindu, 21p.m

Harapan di Hari Ulang Tahunmu

Sang Memoar