Anganku: Dinginnya Sheffield Membekukan Hati
Oh Tuhan, kenapa Sheffield bisa sedingin ini?
Apa kabar Bandung?
Aku rindu kota itu. Rindu orang tuaku.
Ayah, Ibu sehat? Abang tak membuat kalian repot kan?
Aku rindu kehangatan kalian walau di musim hujan sekali pun.
Tunggu aku pulang ya, tunggu sebentar saja.
Bus itu berhenti. Sudah
sekitar setengah jam hingga Ana sadar bahwa ia telah sampai di tujuannya.
Universitas di Sheffield, Inggris, sudah sekitar satu tahun Ana menjadi mahasisiwi
jurusan komunikasi di sana. Tak ada mimpi
yang tidak bisa kuraih, tugasku hanya mencari peluang dan memanfaatkannya. Kalau
ingin tahu bagaimana sosok perempuan bertekad besar, kalian harus bertemu
dengannya, Anagatha Janmawira. Perempuan, 18 tahun, kelahiran kota Kembang
Bandung, Indonesia. Anak dari pelatih sepak bola lokal, Dharma Adhiwira, dan
pemilik usaha kue terkenal di Bandung, Laili Nathania. Ana mempunyai satu kakak
laki-laki bernama Ananta Janmawira, mahasiswa aristetkur ITB.
Tidak seperti biasanya halte
bus universitas tampak sangat ramai. Mungkin
karena cuaca yang semakin tidak mendukung, jadi para mahasiswa bergegas untuk
pulang. Ana rekatkan jaket tebalnya, lalu turun dari bus yang
ditumpanginya.
“Hai Ana!” sapa seseorang.
“Hai! Sudah pulang?” jawabnya
segera.
“Iyanih, bukannya kamu juga
hanya mengumpulkan tugas? Do you know that Mr. Nichole can not come to the
class?”
“Ya, i know. Habis ini saya
juga mau langsung pulang, kalau gitu duluan ya. See you!”
Ana selalu membiasakan diri
berbicara formal, meski dengan sesama warga Indonesia. Ia tahu Inggris adalah
negara berkultur sangat kental, sama dengan Indonesia, jadi menurutnya tak ada
salahnya menanamkan budaya sopan santun di sana. Padahal kalau di Indo enaknya pakai ‘gue-elo’, lebih terkesan friendly
sih.
Di perjalanan Ana teringat kalau
hari ini ada konferensi mahasiswa Indonesia di Dovedale, setelah mengumpulkan
tugasnya, ia langsung bergegas. Konferensi dimulai pada pukul empat sore, Ana
akan sedikit terlambat karena butuh waktu dua puluh menit berjalan kaki ke sana.
Tak apalah mungkin hanya akan telat lima
menit, semoga mereka baru memulai berbasa-basi.
Pertama kalinya mendatangi
konferensi mahasiswa Indonesia di Sheffield, bagi Ana sungguh luar biasa.
Selain bisa berkumpul bersama, mereka juga saling berbagi pengalaman dengan
bertukar cerita. Seharusnya acara seperti
ini tidak hanya diselenggarakan di luar negeri, Indonesia sendiri pun juga
perlu. Dan seharusnya tahun lalu aku tidak mengetahui ini terlambat, tentu hari
ini akan jadi yang kedua kalinya bagiku. Konferensi diadakan sekali per
enam bulan bertepatan dengan berakhirnya ujian semester.
Ana duduk di bawah pohon
rindang yang cukup besar, bukan di tanah, melainkan di bangku panjang yang
sengaja disediakan oleh panitia. Thank
God, i’m so blessed in here with my
one-nation’s friends. Ana bergumam ketika melihat begitu banyak teman
sebangsanya begkumpul bukan di negaranya sendiri. Setelahnya, seorang
perempuan datang dan langsung duduk di sebelah Ana.
“Haloo, may i?” sapanya
meminta izin Ana.
“Oh haloo! Of course.”
“Mahasiswi juga ya?” tanya
perempuan itu. “Oops, sorry i speak bahasa,” tambahnya.
“Tidak apa, saya juga orang
Indonesia kok. Ana, Anagatha Janmawira, mahasiswi komunikasi di Uni-Sheffield.
Kamu?. ”
“Gak usah terlalu baku gitu
ah, ‘gue-elo’ aja ya? Gue Shakila Rauza, kampus kita sama tapi gue arsitek.
Nice to meet you, Ana. Sendirian?”
“Iya, sendiri. Gue bisa
dibilang belum punya temen di sini, maklum anak baru, masih adaptasi.”
“Oh lo maba ceritanya nih?
Bisa deh gue temenin kalo gitu hehe.”
“Wah terima kasih lho, lo semester
berapa? Sendiri juga?”
“Semester tiga, but gausah
pake kak ya, panggil nama aja. Nggak sih, sama pacar ke sini hehe, tapi dia lagi
ke toilet.”
“Oke baiklah hahaha enak ya
di negara orang tapi sama yang bisa jagain. Eh kok jadi curhat gini ahahaha.”
Mereka berdua tertawa
setelahnya. Tak sangka tenyata Ana bisa langsung merasa sedekat ini dengan
Shakila. Mungkin karena pembawaan Shakila
yang asik. Tak lama terdengar suara adzan Maghrib. Sheffield memang sebuah
kota yang sudah memiliki toleransi yang besar. Banyak umat muslim yang lebih
memilih tinggal di sana dibandingkan kota-kota lain di Inggris. “Shakila maaf
gue harus pamit, mau sholat maghrib dulu. Duluan ya, atau mau ikut?”.
“Hmm sorry Ana, aku noni
(non-Islam),” ucap Shakila. Mendengar jawaban Shakila, Ana menjadi tak enak
hati. Ana meminta maaf pada Shakila dan beranjak pamit.
Ah iya, belum sempat minta kontak Shakila tadi. Pacanya juga
tak kunjung datang, ga kenalan deh.
***
Setelah sholat maghrib dan
menunggu sebentar hingga waktu isya, Ana memilih tak kembali ke konferensi. Malam semakin larut, dan kota Sheffield akan
semakin dingin. Bisa-bisa beku nanti. Alih-alih menghentikan taksi, Ana
justru berjalan menuju halte bus. Entah apa yang ada dipikiran Ana, seharusnya
ia bisa lebih capat sampai ke apartemennya dengan menumpangi taksi. Jarak
masjid dengan halte hanya sekitar 100 meter. Meski begitu Ana harus ekstra
mengeratkan jaket tebalnya agar tetap merasa hangat.
Aku sudah menjadi diriku.
Tak ada lagi yang dulu.
Aku mohon, enyahlah kau masa lalu.
Dinginnya Sheffield yang membeku.
Telah mengusik sebuah kalbu.
Dari biru menjadi abu-abu.
Anganku tak lagi menjadi anganmu.
Ragamu tak lagi menjadi milikku.
Ku mohon pergilah kau wahai rindu.
Biarkan aku memandu jalan baruku.
Ana terisak, tiba-tiba saja
bait-bait menyesakkan dada terlintas di kepalanya. Mungkin sulit bagi Ana untuk
melupakan, namun ia yakin Sheffield akan membantunya. Ia memang menaruh harapan
pada kota kecil di Inggris ini. Bukankah
menemukan tempat baru akan berhasil membuatmu lupa akan masa lalu? Ana
pernah mendengar itu dari seorang pria yang tengah merayu perempuannya di salah
satu halte bus di Jakarta. Pria itu menjanjikan sesuatu yang baru dan meminta
perempuannya meninggalkan angan-angan kelabunya. Terlalu naive memang jika harus percaya pada bualan. Namun di sini aku
tak menaruh kepercayaanku pada manusia, melainkan kota kecil bernama Sheffield.
Aku yakin ini akan berhasil.
Setelah menumpangi bus yang
tiba persis ketika ia sampai di halte dan menempuh perjalanan selama 30 menit,
Ana tiba di halte pemberhentiannya. Ana hanya butuh waktu sebentar untuk
berjalan menuju apartemennya. Menaiki elevator menuju lantai dua, lalu berjalan
ke arah kanan menuju kamar dengan nomor 219. Ya
Tuhan, mengingat angka itu aku jadi pesimis. Tahukah Sheffield itu merupakan
angka yang mengingatkanku dengannya?
Sejak Ana pindah, apartemen
itu tampak tak jauh berbeda. Selain fasilitas yang diberikan oleh pihak
apartemen, Ana hanya menambahkan seperintilan kecilnya saja. Kamar yang sangat
berbeda dari kamarnya di rumah Bandung. Mungkin
kalau aku lama di sini, aku akan mendesainnya seperti kamarku. Sayang aku hanya
sementara.
Mengingat bahwa belum memakan
apapun hari ini, Ana pergi ke dapur selesai membersihkan seluruh tubuhnya. Ia
mengambil panci berukuran kecil, memasukan air secukupnya, lalu menjerangnya.
Setelah mendidih, ia memasukkan sebuah mie instan. Lalu ia membuka bumbu-bumbu mie
instan itu dan menaruhnya ke dalam mangkuk. Sering kali lupa tak mengisi perut,
akibatnya Ana menjadi rentan terkena maag. Sekali ia pernah bercerita kepada
sang Ibu, setelahnya ia justru berbohong. Mama
kalau sudah marah, panjang urusannya.
Comments
Post a Comment